Tuesday, 28 April 2009

Jews for Palestine - Pelajaran mengenai “generalisasi”

Sumber: http://indonesian.dreamhosters.com/

Luar biasa, sangat mengharukan. Saya menemukan surat pembaca dari berbagai tokoh Yahudi di Inggris, yang menyatakan kecaman mereka terhadap Israel.

Di tengah semua kemarahan, emosi, ketidak adilan, dan kekejaman di sepotong kecil tanah bernama Gaza; alhamdulillah masih ada sekelompok orang-orang yang masih bisa berpikir dengan rasional dan kritis. Dan mengutamakan hati kecil mereka daripada egonya.

Terlampir adalah surat mereka ke koran Guardian di Inggris :
"

We the undersigned are all of Jewish origin.

When we see the dead and bloodied bodies of young children, the cutting off of water, electricity and food, we are reminded of the siege of the Warsaw Ghetto. When Dov Weisglass, an adviser to the Israeli prime minister, Ehud Olmert, talked of putting Gazans “on a diet” and the deputy defence minister, Matan Vilnai, talked about the Palestinians experiencing “a bigger shoah” (holocaust), this reminds us of Governor General Hans Frank in Nazi-occupied Poland, who spoke of “death by hunger”.

The real reason for the attack on Gaza is that Israel is only willing to deal with Palestinian quislings. The main crime of Hamas is not terrorism but its refusal to accept becoming a pawn in the hands of the Israeli occupation regime in Palestine.

The decision last month by the EU council to upgrade relations with Israel, without any specific conditions on human rights, has encouraged further Israeli aggression. The time for appeasing Israel is long past. As a first step, Britain must withdraw the British ambassador to Israel and, as with apartheid South Africa, embark on a programme of boycott, divestment and sanctions.

Ben Birnberg, Prof Haim Bresheeth, Deborah Fink, Bella Freud, Tony Greenstein, Abe Hayeem, Prof Adah Kay, Yehudit Keshet, Dr Les Levidow, Prof Yosefa Loshitzky, Prof Moshe Machover, Miriam Margolyes, Prof Jonathan Rosenhead, Seymour Alexander, Ben Birnberg, Martin Birnstingl, Prof. Haim Bresheeth, Ruth Clark, Judith Cravitz, Mike Cushman, Angela Dale, Merav Devere, Greg Dropkin, Angela Eden, Sarah Ferner, Alf Filer, Mark Findlay, Sylvia Finzi, Bella Freud, Tessa van Gelderen, Claire Glasman, Ruth Hall, Adrian Hart, Alain Hertzmann, Abe Hayeem, Rosamene Hayeem, Anna Hellmann, Selma James, Riva Joffe, Yael Kahn, Michael Kalmanovitz, Ros Kane, Prof. Adah Kay, Yehudit Keshet, Mark Krantz, Bernice Laschinger, Pam Laurance, Dr Les Levidow, Prof. Yosefa Loshitzky, Prof. Moshe Machover, Beryl Maizels, Miriam Margolyes, Helen Marks, Martine Miel, Diana Neslen, O Neumann, Susan Pashkoff, Hon. Juliet Peston, Renate Prince, Roland Rance, Sheila Robin, Ossi Ron, Manfred Ropschitz, John Rose, Prof. Jonathan Rosenhead, Leon Rosselson, Michael Sackin, Ian Saville, Amanda Sebestyen, Sam Semoff, Prof. Ludi Simpson, Viv Stein, Inbar Tamari, Ruth Tenne, Norman Traub, Eve Turner, Tirza Waisel, Karl Walinets, Renee Walinets, Stanley Walinets, Philip Ward, Naomi Wimborne-Idrissi, Ruth Williams, Jay Woolrich, Ben Young, Myk Zeitlin, Androulla Zucker, John Zucker "


Para Yahudi ini justru menyarankan boikot, penarikan investasi, dan hukuman-hukuman bagi Israel. Mudah-mudahan kita bisa menjalankan saran-saran mereka tersebut.

Juga, semoga kita bisa selalu ingat untuk tidak menggeneralisir bahwa “semua Yahudi itu jahat”. Di antara mereka, masih ada segelintir kecil yang hatinya turut menangis untuk rakyat Palestina. Tidak itu saja, mereka juga secara aktif menentang penjajahan & kezaliman Israel terhadap Palestina.

Beberapa bahkan membayar sikap mereka tersebut dengan nyawanya.

Quran tidak mengajarkan kita untuk membenci Yahudi. Namun, untuk waspada terhadap tipu daya dan makar dari sebagian mereka.
Memvonis seluruh Yahudi jahat karena kejahatan sebagian dari mereka adalah generalisasi. Ini termasuk pada ketidak adilan - dan jelas ini tidak dibenarkan oleh Islam. Islam adalah agama yang sangat menitik beratkan fokus pada keadilan. Jangan sampai kita terjerumus kepada menzalimi sebagian pihak, hanya karena kebencian & emosi kita.

Satu contoh lagi adalah Neturei Karta. Slogan mereka adalah Orthodox Jews United Against Zionism (*).
Ketika beberapa diantara kita mungkin hanya duduk di belakang meja dan bersimpati tanpa banyak melakukan sesuatu, para anggota Neturei Karta aktif dan gencar turun langsung ke lapangan menentang Zionisme. Luar biasa.

Yahudi juga manusia. Mereka mampu untuk melakukan kebaikan. Namun, sebagian mereka juga mampu melakukan kejahatan, seperti manusia lainnya juga. Kita musti bisa bertindak secara adil terhadap semua ini.

Satu contoh Yahudi yang pantas untuk ditindak adalah Howard Schultz. Chairman, president, dan CEO dari Starbucks, Schultz dengan aktif mendukung negara Israel, dan mengkampanyekan keberadaannya. Tentunya dia bukan tidak tahu mengenai berbagai kejahatan Israel. Namun tetap saja Schultz mendukung Zionisme.

Yah, alhamdulillah menemukan informasi ini. Menuruti himbauan dari rekan-rekan Yahudi di Inggris di atas, sekarang saya jadi sangat malas untuk ngopi di Starbucks.
Yuk kita ramaikan saja Bakoel Koffie, atau warung-warung lainnya.

Hari ini saya mendapat pelajaran yang sangat berharga mengenai kemanusiaan, empati, nurani, keadilan dan logika. Semoga bisa bermanfaat juga untuk Anda.

(*) Zionisme sebetulnya adalah salah satu bentuk ekstrimisme / zealotry dalam beragama. Dalam teks agama Yahudi sendiri sebetulnya tidak ada mengharuskan mereka untuk kembali lagi ke tanah Palestina. Zionists memilih penafsiran yang ekstrim, plus implementasi yang tidak kalah ekstrimnya lagi. Hasilnya, seperti yang sudah dan sedang kita saksikan, adalah derita berkepanjangan dari rakyat Palestina.

Neturei Karta, walaupun beraliran Orthodox, namun bisa memahami teks / ajaran agama mereka dengan baik / tidak ekstrim. Karena itu mereka bisa menyadari kekeliruan Zionists, dan tidak turut terjerumus kesitu.

Mudah-mudahan kita bisa meniru teladan mereka ini - terhindar dari berlebih-lebihan / ekstrimisme dalam beragama.




Baca semua......

Thursday, 15 January 2009

Hak Asasi Manusia ala Amerika Serikat

Satpam dunia, penegak HAM, penegak demokrasi, liberalis sejati, humanis…
Itu hanya segelintir predikat yang disandang oleh Amerika Serikat. Tentu predikat itu melekat bukan karena tempelkan oleh negara-negara lain, namun ditempelkan sendiri oleh Amerikat Serikat. Melihat hal tersebut, sebagian negara lain mengejek (Iran, Venezuela, Kuba dll), sebagian memuji (negara-negara Eropa) dan sebagian lagi menjilat (Israel, Inggris, Arab Saudi dan mungkin Indonesia).

Jutaan orang tergoda oleh American Dream yang ditawarkan oleh Amerika (baca:Amerika Serikat). Hidup yang glamour, saling toleransi, tidak ada diskriminasi ras, pengakuan hak asasi manusia setinggi-tingginya. Wow…sangat sempurna sekali kehidupan di Amerika dari perspektif kehidupan bertenggang rasa.

Tak hanya menjanjikan kehidupan yang penuh pengakuan HAM, namun AS juga mulai mengatur penegakan HAM di dunia ini. Setidaknya Amerika sudah mengeluarkan pernyataan bahwa ada 10 negara teratas dalam pelanggaran HAM, seperti dilansir Departemen Luar Negeri (Deplu) AS. Mereka adalah Korea Utara (Korut), Myanmar, Iran, Suria, Zimbabwe, Kuba, Belarusia, Uzbekistan, Eritrea, dan Sudan. Dan mungkin akan bertambah lagi menyesuaikan “keinginan hati” AS.

Melihat pernyataan Deplu-nya AS itu, banyak pihak menganggap hal tersebut sebuah hal yang ironis. Ibaratnya gajah dipelupuk mata tak tampak, semut diujung lautan justru ditampak-tampakan. AS sendiri tidak “merasa” bahwa seharusnya mereka berada diurutan paling atas di daftar negara-negara pelanggar HAM.

Kita semua yang masih punya mata pasti tahu, jutaan nyawa melayang di beberapa belahan dunia, akibat arogansi pemerintahan AS. Tidak hanya pada tahun-tahun terakhir.

Penelitian yang dilakukan Opinion Research Business (ORB) pada September 2007 menunjukkan jumlah korban tewas perang Irak mencapai lebih dari satu juta jiwa. Pembantaian yang dilakukan atas nama demokrasi itu menghabiskan dana hingga USD3 triliun, seperti disebut Joseph Stiglitz, mantan Presiden Bank Dunia yang juga peraih hadiah nobel bidang ekonomi dalam bukunya berjudul The Three Trillion Dollar War: The True Cost of the Iraq Conflict.

Selain pada dua perang yang tak berdasar seperti di Irak dan Afghanistan tersebut, AS juga melakukan pelanggaran HAM di penjara Guantanamo di Teluk Kuba, di Irak, di Afghanistan atau dimanapun Amerika Serikat punya kamp tahanan. Dan jangan lupa kasus diskriminasi AS terhadap kulit hitam dan orang-orang Islam untuk mendapatkan fasilitas umum.

Dan yang terbaru adalah sikap AS terhadap serangan Israel di Gaza. Ratusan warga sipil tewas, dan AS hanya diam saja. Bahkan membela Israel dengan pernyataan bahwa serangan itu untuk membela diri. Sungguh buta atau pura-pura buta mata AS itu.

Serangan Israel yang terbukti menggunakan senjata yang mengandung uranium tak membuat AS mengambil sikap tegas terhadap Israel. Tak seperti ketika AS melancarkan tuduhan terhadap Irak, Iran, Korut dan negara lain dengan tuduhan mengembangkan senjata terlarang, walau akhirnya beberapa tuduhan itu tak terbukti. Tak hanya tuduhan yang dilancarkan, namun juga serangan fisik demi membongkar rahasia senjata terlarang yang “dikembangkan” negara lain.

Bagi anda yang pernah menonton film Sick-O, pasti akan melihat betapa AS sangat “menjunjung tinggi” HAM bagi orang-orang yang sedang sakit. Di dalam film semi-dokumenter itu terlihat jelas bagaimana perlakuan AS dalam “meliberalisasikan” fasilitas kesehatan bagi rakyatnya sendiri. Terlihat nyata bagaimana perlakuan AS yang sangat buruk terhadap rakyatnya sendiri yang sedang sakit namun tak mempunyai biaya.

Sungguh buta mata orang yang masih menganggap AS sebagai negara yang menghargai HAM.

Kemunafikan AS dalam hal HAM ini sudah pasti diakui semua orang bahkan oleh mereka yang menjilat ujung kaki AS. Namun apa mau dikata, dia lah satpam dunia, dia lah yang adi kuasa, dia lah firaun berbentuk pemerintahan, dan mungkin dia lah “Tuhan” di dunia. Begitulah kalau sebuah negara dibangun dengan penjajahan, pembantaian dan invasi. Ingat, bahwa wilayah yang sekarang menjadi negara adidaya itu sesungguhnya bukanlah milik mereka. Namun merupakan hasil rampokan dari suku-suku asli yang mendiami disana. Dan apa yang diperbuat penjajah itu kepada suku asli tersebut sungguh jauh dari sikap penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Sungguh salut terhadap mereka yang terang-terangan berani menunjukkan jari tengahnya terhadap AS. Diluar konteks yang lain, acungan jempol pantas diberikan kepada Ahmadinejad, Hugo Chaves, Fidel Castro, Saddam Husein dan semua United State’s ass kickers.

Tentu yang dimaksud Amerika Serikat dalam artikel ini bukan semua rakyat Amerika. Namun, yang dimaksud adalah pemerintahnya dan sebagian rakyatnya yang hatinya masih tertutup kemunafikan.


Baca semua......

Tuesday, 6 January 2009

Belang Obama pun Terkuak


sumber:http://mikekono.wordpress.com

Menyandang Hussein di tengah namanya, banyak orang memendam harapan tinggi, Barack Hussein Obama, sang Presiden USA terpilih yang akan menghuni White House 20 Januari itu, akan memberi keuntungan (politis) bagi dunia Islam.

Atau setidaknya dia akan lebih moderat dan getol membela penegakan HAM serta mewujudkan perdamaian di kawasan Timur Tengah, ketimbang pendahulunya si pemberang George Bush, yang baru saja ditimpuk sepatu oleh Al-Zaidi.

Tetapi apa hendak dikata, harapan berhenti sebatas harapan. Belang Obama terlalu cepat terkuak. Seperti pernah saya tulis di blog ini beberapa bulan lalu, kita (Indonesia dan dunia Islam) memang tak selayaknya terlalu berharap pada seorang Obama.(Lihat postingan berjudul : Jangan Terlalu Berharap pada Obama, 25 Okt 2008)


Belum lagi secara resmi menjabat sebagai Presiden negeri Paman Sam itu, belang Obama sudah terkuak. Ketika terjadi teror bom di Mumbai India yang menewaskan warga Barat beberapa bulan lalu, Obama langsung bereaksi keras mengecam aksi itu.

Tapi saat Israel meluluhlantakkan Jalur Gaza Palestina dan menewaskan ratusan nyawa manusia tak bersalah, Obama diam seribu bahasa. Bahkan dia masih bisa santai dan asyik main basket. Alaaamak….!

Untuk membedakannya dengan George Bush, banyak kalangan berharap Obama memperlihatkan sikap penyesalannya terhadap aksi membabibuta Israel tersebut. Sayang, hingga kini Obama tak jua memperlihatkan keprihatinannya terhadap situasi mutakhir di Timur Tengah itu.

Lalu, bagaimanakah kita memandang sikap double standard Obama itu ? Sejatinya, Obama tak bisa disalahkan sepenuhnya. Dia berada dalam posisi gamang. Mungkin saja dalam hati kecilnya, dia ingin menentang aksi kejam Israel itu.

Tetapi di sisi lain, dia kini menyandang status sebagai Presiden AS. Negeri yang selalu menjadi sekutu utama Israel. Sikap Obama yang tak mungkin keras terhadap Israel juga telah diperlihatkannya saat menunjuk Hillary Clinton sebagai Menlu, yang notabene dikenal sebagai sosok yang selalu konsisten membela kepentingan Israel dalam konflik Timur Tengah.

Obama sebagai seorang manusia biasa mungkin saja akan menentang aksi kekerasan dalam menyelesaikan konflik. Tapi, Obama sebagai orang nomor satu di Gedung Putih, sudah pasti akan berpegang pada kebijakan baku politik luar negeri AS, yang selamanya akan berpihak pada Israel.

So…., yang keliru adalah mereka yang selama ini terlalu memendam ekspektasi berlebih kepada seorang Obama. Akhirnya belum lagi dilantik, belang Obama sudah terkuak. Obama telah memberi kekecewaan bagi para pengagumnya selama ini, terutama dari kalangan masyarakat muslim Indonesia dan dunia. Obama….., teganya dikau !

==========================================================
bagaimana dengan anda? apakah masih mau berharap banyak dengan Obama?(ajix)


Baca semua......

Sunday, 19 October 2008

Tutorial Mudah Menjadi Insomnia

Setelah kita tau ada berbagai klub seperti klub mati muda, klub bangun siang, klub nudis dan klub-klub lainnya, sekarang yang tidak kalah ngetrend adalah klub insomnia. Sebuah klub yang menaungi ribuang orang yang menjadikan insomnia sebagai ”gaya hidup”.
Jumlah anggota klub insomnia ini semakin saja membengkak (selayaknya mata mereka yang makin membengkak dan berwarna ungu). Keberadaan klub insomnia seolah menunjukkan eksistensi mereka yang memberontak hasil riset para dokter yang mengatakan bahwa insomnia adalah sesuatu yang berbahaya.

Mereka membuktikan bahwa banyak sekali keuntungan-keuntungan menjadi insomnia, coba simak hal-hal berikut ini:
1. Waktu bekerja anda akan semakin banyak. Dengan menjadi insomnia, anda mempunyai waktu lebih banyak dibanding orang non-insomnia dalam bekerja, belajar atau pun mengerjakan skripsi. Karena disaat orang-orang non-insomnia terlelap, anda masih terjaga untuk bekerja atau belajar.
2. Bagi anda-anda penggemar eye liner seperti yang dipake anak-anak emo, tidak perlu lagi mengenakan eye liner karena dengan menjadi insomnia, kelopak dan kantung mata anda akan selalu hitam diselubungi eye liner alami.
3. Mati muda. Dengan menjadi insomnia seumur hidup, anda akan secepatnya mati muda. Dengan mati muda, dosa yang anda lakukan tidak akan terlalu banyak sehingga peluang anda masuk surga semakin besar.

Oke...supaya anda-anda sekalian tidak ketingggalan trend yang sedang in ini, dengan berbaik hati akan saya berikan tutorial mudah menjadi insomnia. Setelah melakukan berbagai riset, akhirnya ditemukanlah formula ampuh untuk dapat mendadak insomnia.
1.Minum kopi sebanyak-banyaknya. Kalau perlu satu toples sikat semua. Tak kalah pentingnya, tambahkan garam pada kopi yang anda buat. Akan semakin nyoossss.....
2.Mulailah sedikit demi sedikit tidur dini hari. Hingga pada akhirnya anda akan terbiasa tidur setelah jam 3 pagi. Untuk fase tersebut, anda sudah dapat disebut insomnia.
3.Jika mata anda mulai mengantuk, ganjal mata anda dengan korek kayu agar kelopak mata tidak menutup.
4.Sewa-lah film sebanyak-banyaknya untuk menemani anda ber-insomnia ria.
5.Pada malam hari lakukanlah pekerjaan yang pada umumnya dilakukan pada pagi/siang hari, seperti berolah raga, lari-lari, mengerjakan tugas kuliah, masak, mandi, memotong rumput dll.
6.Dengarkan lagu bang haji rhoma irama yang berjudul ”Begadang” sebagai penyemangat. Dan mulailah menjadikan lagu tersebut sebagai theme song bagi hidup anda.

Selamat mencoba!


Perhatian!!!
Gaya hidup konyol tersebut hanya ada di dalam dunia khayalan semata. Penulis tidak bertanggung jawab atas resiko yang anda alami jika anda mengikuti tutorial di atas :p

Baca semua......

Wednesday, 8 October 2008

Orasi band straight edge di atas panggung: apakah suatu intervensi?


Berawal dr obrolan dengan teman yang “curhat” bahwa dia sedikit risih dengan tingkah sebuah band sXe yang saat manggung menyuruh penontonnya mematikan rokok. Temenku tadi berkata, bahwa apa yang dilakukan band tersebut adalah suatu intervensi bagi penonton. Benarkah? Kita tidak bisa menghakimi hanya berdasar kisah dari temenku tersebut, karena tentu akan ada banyak sekali sudut pandang dalam memandang masalah tersebut.

Oke, sekarang mari kita coba kesampingkan dulu kasus di atas. Dan kita coba melihat lebih umum. Tidak dipungkiri bahwa hampir semua band yang mengklaim sebagai band straight edge melakukan orasi tentang sXe di atas panggung. Sekarang, apakah itu bisa disebut intervensi (kalau tidak boleh disebut intimidasi)?

Sebelum kita putuskan apakah itu termasuk sebuah intervensi atau bukan, coba lihat band lain. Coba lihat band anarkis yang di panggung selalu mendengung-dengungkan semangat anarkismenya. Atau band feminis yang selalu berkoar tentang jender. Atau mungkin band lain yang hobi kampanye lingkungan, atheis, anti premanisme dan lain-lain. Apakah itu juga intervensi?

Jika kita memandang lebih cerdas dan dewasa mengenai orasi yang selalu dikoarkan band di atas panggung, kita tidak akan menganggapnya sebagai intervensi, apalagi intimidasi. Termasuk orasi yang dilakukan oleh band straight edge. Karena apa yang mereka lakukan adalah suatu bentuk kebebasan berekspresi dalam menyampaikan pesan semata. Sama halnya dengan band anarkis, feminis, environmentalis dan lainnya yang menyampaikan pesan melalui performa-nya di atas panggung. Justru dengan orasi tersebut, kita jadi tau pesan yang disampaikan band melalui aksi panggung dan lagu-lagunya. Karena tanpa orasi seperti itu, tentu cukup sulit menangkap apa yang menjadi isi dari lagu yang dia bawakan mengingat lagu dibawakan kebanyakan dengan bahasa inggris dan suara yang tidak semua bisa mendengarnya, belum lagi kalau sound-nya jelek. Kecuali kita sudah membaca liriknya sebelumnya.

Tentu kita bukanlah kerbau yang dicocok hidungnya lantas nurut-nurut aja apa yang disampaikan oleh band tersebut. Pada akhirnya akan kembali pada diri kita, jika setuju dengan pesan mereka ya ikuti, jika tidak ya tidak usah didengarkan. Simple kan?

Kembali ke kasus semula, apakah orasi yang dilakukan band sXe tersebut adalah suatu intervensi? Selama masih dalam bentuk orasi yang wajar, saya rasa itu bukanlah intervensi. Walaupun kata “wajar” ini based on condition...Tapi tentu kita sudah cukup cerdas dan dewasa untuk mengetahui yang wajar dan tidak. Dan yang terpenting adalah jangan hanya karena tidak setuju dengan pesan yang disampaikan lantas menganggapnya sebagai sebuah bentuk intervensi atau intimidasi. Be smart...

Baca semua......

Saturday, 13 September 2008

Punk dan Hardcore Hari Ini (Part 2)

Sebelumnya aku mau menegaskan bahwa tulisan ini sangat murni subyektif dari sudut pandangku sendiri. Jadi, seperti yang kita tahu bahwa dari sudut pandang subyektifitas, dalam beropini tidak ada benar atau salah, karena subyektifitas adalah segalanya. Walaupun tetap ada konsekuensi mutlak dibaliknya.

Oke, lanjut bleeeh...
Punk/hardcore hari ini tak ubahnya sekumpulan orang penggemar musik non-mainstream(?) atau boleh dibilang sedikit cadas, tanpa ada pengaplikasian dalam pemikiran dan kehidupan sehari-harinya. Pendapat seperti itu sering terlontar dibenak beberapa orang bahkan mungkin kamu.

Menurutku ada benarnya juga pendapat tersebut. Walau mungkin pedapat tersebut hanya berlaku pada sebagian orang saja (atau sebagian besar..hehe). Aku pribadi bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa di dalam scene. Bukan pula seorang ’aktivis’ tongkrongan dalam scene punk/hardcore. Mungkin dulu memang aku ’hang out’ bersama teman-teman di komunitas Tapi aku menolak untuk disebut sebagai ’aktivis’ tongkrongan karena memang intensitasku sangat minim. Mungkin karena disebabkan masalah waktu saja. Tapi dengan begitu, justru aku bisa memposisikan diriku sebagai orang yang melihat kondisi scene dari sudut pandang yang lain.

Sangat disayangkan memang, jika kita lebih berkutat dengan masalah musik dan fashion semata. Tanpa ada suatu ’rebel’ dalam pengaplikasian di kehidupan sehari-hari. Mungkin sudah terlalu klise kita membicarakan masalah rebellion pada saat ini. Tapi menurutku, justru itulah inti dari sub-kultur ini. Tidak terbatas pada masalah musik dan lirik semata, apalagi fashion.

Oke lah... Memang dalam bermusik kita bisa dibilang sangat rebel. Sangat berbeda dengan selera orang kebanyakan. Tapi apakah hidup ini hanya sebatas musik dan lirik semata? Kita sangat hobi meneriakkan semangat brotherhood, anti ini, anti itu, fuck ini, fuck itu, tapi apakah rebel kita hanya sebatas itu? Hanya terbatas pada apa yang kita nyanyikan? Bahkan kalau boleh berpendapat, kita bisa sangat rebel tanpa lirik-lirik garang. Kita bisa sangat rebel walau kita menyanyikan lagu cengeng. Benarkah? Ya! Karena ada suatu media yang bisa kita gunakan sebagai media rebellion.Yaitu hidup kita sehari-hari.

Apakah rebel yang dari tadi aku maksud itu lantas anti ini, anti itu, lawan ini, lawan itu?? Tidak bro! Mungkin sedikit terinspirasi pendapat beberapa orang yang cukup cerdas membahas masalah rebel 4 life. Bahwa rebel itu tidak lantas asal-asalan lawan ini, lawan itu, anti ini, anti itu. Tidak asal ikut-ikutan. Karena suatu rebel yang akan kita lakukan itu hanya kita yang tahu pasti. Mungkin bagi orang lain hal tersebut bukanlah suatu rebellion, tapi bagi kita itu sangat rebel. Atau sebaliknya, mungkin bagi kita hal tersebut tidak rebel, sedangkan bagi orang lain hal tersebut adalah bentuk rebel dia.

Jadi rebel yang kumaksud bukanlah rebel tolol yang asal ingin tampil beda semata. Tapi suatu rebel yang kita pribadi mempunyai dan memahami alasan untuk melakukannya. Subyektifitas sangat berperan di dalamnya. Ya... Aku ambil contoh, mungkin kamu merasa politik praktis adalah media yang cocok bagimu untuk melawan kondisi politik yang itu-itu saja, ya silahkan rebel dengan media politik. Atau misal kamu merasa bahwa rokok adalah suatu hal yang sangat memuakkan, ya silahkan melakukan suatu rebel dalam kehidupanmu untuk tidak menggunakan rokok seperti yang lain bahkan mungkin bergabung dengan organisasi anti-rokok... Atau misal lagi kamu merasa bahwa agama adalah kebohongan publik semata, ya silakan menjadi atheis atau agnostic sebagai bentuk rebel-mu. Atau sebaliknya, mungkin kamu merasa bahwa atheis hanyalah bagi orang-orang tolol, ya silakan ber-rebel dengan menjadi umat beragama yang baik. Atau mungkin kamu merasa animal-exploitation semakin parah, ya silakan rebel dengan menjadi aktivis animal-rights. Bahkan kamu bisa menjadi sangat rebel dalam hal positif ketika kebanyakan orang dengan enaknya membuang sampah sembarangan, tapi kamu melawan itu semua dengan tidak menjadi seperti mereka, dengan mendisiplinkan dirimu untuk membuang sampah pada tempatnya.... Jadi sekali lagi, mungkin kita sendiri yang paham mengenai rebel yang kita lakukan. Tapi tentunya dalam batas sebuah rebel yang cerdas, bertanggungjawab dan tidak merugikan orang lain.

Sudah saatnya, kita tidak hanya berkutat masalah musik, lirik dan fashion. Musik dan lirik bahkan fashion, itu hanya salah satu media kita dalam mengekspresikan rebel kita. Menjadi seorang punk/hardcore itu saja sudah menjadi suatu rebel yang positif. Positif di sini tidak dalam konteks straight edge atau positive youth, tapi dalam konteks yang lebih luas. Sayangnya, hal positif itu tidak akan berarti apa-apa jika hanya menjadi slogan yang kita teriakkan dan nyanyikan semata.

----------------------------------------------------------------------------------
Kamu merasa tulisan di atas terkesan menggurui, sok tahu, sok paham, sok rebel dan sok-sok lainnya? Terserah.... Yang jelas bukan itu maksudku menulis artikel di atas. Aku hanya ingin beropini saja :D

Baca semua......

Thursday, 28 August 2008

Tuhan Sembilan Senti


Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.



Baca semua......